Sumpang Bita, Wisata Sejarah nan Menakjubkan

Tangga seribu. Salah satu tantangan bagi petualang gua adalah tangga seribu undakan yang harus dilewati sebelum akhirnya sampai di Gua Sumpang Bita. ARTEFAK PURBA. Lukisan di batu bagian belakang adalah saksi peninggalan manusia nomaden yang telah mengenal seni melukis. Selan gambar tangan juga terdapat lukisan PENINGGALAN PRASEJARAH. Gua Kumis Kucing, salah satu kawasan yang dijadikan perlidungan kaum nomaden Sulawesi. Gua ini masih dalam kawasan Sumpang Bita. Saksi Peradaban Lampau di Sulsel
Bagi kalangan yang bergelut dengan antrpologi dan arkeologi, nama Sumpang Bita, tentu saja tidak asing lagi bagi mereka. Kalangan inilah yang dominan mendatangi tempat ini, khususnya untuk sampai ke titik paling tertinggi tempat tersebut, yakni Gua Sumpang Bita. Tentu saja, masyarakat lainnya juga kerap mendatangi tempat bersejarah ini.

Namun dibandingkan masyarakat biasa, peneliti erkeologi mendatangi tempat ini untuk melakukan riset dan pendalaman terhadap saksi masa lampau tersebut. Kebanyakan masyarakat yang ke sana hanya sekedar mengagumi artefak-artefak yang ada di dalam gua. Itu pun jika mereka sampai ke atas, yakni di gua. Karena antara lembah sebagai gerbang awal Sumpang Bita dengan gua, jaraknya mencapai hingga 1.000 meter. Jarak yang tentu saja sangat menantang bagi petualang alam dan pecinta arkeologi.

Sumpang Bita, Wisata Sejarah nan Menakjubkan

Nama Sumpang bitasebetulnya jika ditelisik, memang awalnya hanya sebutan untuk sebuah gua. Namun jangan salah, justru karena gua tersebut tidak sama seperti gua-gua pada umumnya serta memiliki keunikan, sehingga begitu menarik. Sebutan untuk gua tersebut selanjutnya dijadikan nama untuk seluruh area yang masuk ke dalam kawasannya. Lokasi tersebut dinamakan Taman Purbakala Sumpang Bita.

Sumpang Bita, Wisata Sejarah nan Menakjubkan

Sumpang Bita saat ini memang sudah dilindungi. Itu karena memiliki gua yang menyimpan saksi dan bukti-bukti peradaban manusia saat masih nomaden alias belum memiliki rumah. Gua Sumpang Bita dijadikan sebagai rumah masyarakat yang diduga masih pra sejarah. Bukti-bukti tentang itu bisa dijumpai di dalam gua tersebut. Adanya fragmen-fragmen memang menguatkan jika dulu kawasan ini merupakan area perlindungan bagi kaum nomad tersebut.

Sumpang Bita, Wisata Sejarah nan Menakjubkan

Fragmen tersebut selanjutnya menjadi petunjuk bahwa manusia pada saat itu juga sudah memiliki peradaban dan budaya terutama dalam hal penuangan deskripsi indrawi ke dalam asosiasi atau media. Mereka telah mampu menuangkan realitas yang terlihat menjadi sesuatu yang bernilai seni, yakni membuat lukisan. Bahkan, mereka juga sudah mampu mendeskripsikan bagian-bagian tubuhnya ke dalam fragmentaris tadi, yakni aneka jenis lukisan.

Di dinding gua, memang terdapat aneka lukisan yang bernlai sejarah. Peneliti menduga jika lukisan-lukisan tersebut dibuat oleh sekolompok orang atu suku yang belum memiliki tempat tinggal menetap. Makanya, gua dijadikan sebagai tempat tinggal. Aneka jenis lukisan hewan dan bagian tubuh manusia, termasuk peralatan lain masih bisa disaksikan di dinding gua yang telah dipagari sekelilingnya tersebut.

Sumpang Bita, Wisata Sejarah nan Menakjubkan

Hal itu dilakukan untuk menghindari pengunjung yang datang menyentuh lukisan-lukisan historis tersebut. Lukisan di dominasi gambar tangan berbagai ukuran, mulai tangan anak-anak hingga tangan orang dewasa. Jumlahnya mencapai puluhan lukisan. Lalu ada juga lukisan hewan seperti babi dan rusa. Namun ada juga yang menyebutkan selain babi lukisan hewan tersebut adalah babi rusa, yakni jenis rusa yang perutnya menyerupai babi. Ada juga lukisan perahu. Mayoritas lukisan berwarna merah.

“Hasil penelitian ada yang menyebutkan bahwa bahan dasar pembuat lukisan diambil dari bahan-bahan alami,” ujar Jabbar, salah seorang petugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar saat penulis berkunjung ke Sumpang Bita, Rabu, 30 Maret lalu.

Untuk sampai ke Sumpang Bita, tidaklah begitu sulit. Dari Pangkajene, Ibu Kota Kabupaten Pangkep, pengungjung hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam menggunakan mobil sebelum akhirnya sampai di Kelurahan Balocci Baru Kecamatan Balocci. Jarak dari Pangkejene ke Balocci Baru hanya sekitar 20-an kilo meter. Untuk sampai ke kawasan Sumpang Bita, setidaknya harus menempuh jarak lagi kurang lebih dua sampai tiga kilo meter perjalanan.

Tiba di gerbang masuk Sumpang Bita, sudah ada petugas loket yang menyapa. Namanya Sudirman berusia 37 tahun. Honorer yang telah mengabdi sejak 1995 ini dengan ramah menyapa pengunjung yang datang. Sudirman bertugas sebagai kolektor retribusi masuk ke kawasan tersebut. Ia menjelaskan untuk orang dewasa, tarif yang harus dibayar Rp 2.000 sedangkan untuk anak-anak hanya Rp 1.000. Angka yang tentu saja murah untuk ukuran sebuah objek wisata.

Sudirman menempati pos khusus di bagian kiri gerbang masuk taman. Selain memungut retribusi, juga terdapat buku tamu yang harus diisi semua pengunjung yang datang. Kami yang kebetulan rombongan menggunakan mobil, dipersilahkan masuk ke dalam tanpa harus parkir di luar sebagaimana lazimnya jika ada pengunjung datang. “Khusus untuk tamu yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah, mobilnya bisa masuk. Namun hanya mobil kecil dengan penumpang terbatas yang dibolehkan,” ujar Jabbar, lelaki yang telah berusia 44 tahun tersebut.

Jabbar menuturkan, Sumpang Bita ramai dikunjungi oleh tetamu baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar Indonesia. Sering kali, kata dia, ada orang asing yang datang. Khusus untuk tamu seperti, kata dia, maka yang melayani dan menjadi guide-nya adalah petugas dari BP3 Makassar yang fasih berbahasa Inggris. Jabbar mengaku tak menguasai bahasa internasional tersebut. “Selama saya bertugas di sini sejak 1985, belum ada perubahan berarti pada lukisannya. Masih bertahan begitu,” katanya.

Bagi anda yang penasaran ingin melihat langsung artefak fragmen dan artefak, tak ada salahnya mengunjungi gua tersebut. Mulut Gua Sumpang Bita lebarnya mencapai 15 meter, sedangkan panjangnya antara 30 sampai 50 meter. Memiliki beberapa rongga di dalamnya. Sekira tiga meter dari mulut gua, terdapat lagi dua cabang gua yang lainnya.

KEBERADAAN Cagar Budaya Sumpang Bita rupanya tidak diketahui semua oleh masyarakat Pangkep, khususnya generasi mudanya. Walau sebagian mengaku pernah mendengarnya, namun untuk mengunjungi lokasi tersebut, hanya beberapa saja yang mengaku pernah ke sana. Kalau pun datang ke Sumpang Bita, kebanyakan tidak sampai ke gua.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pemuda Pangkajene, Mujahidin, saat menemanipenulis ke Sumpang Bita. Pemuda usia 25 tahun ini mengakui jika sebelumnya ia sudah pernah berkunjung ke tempat itu. Hanya saja, ia tidak sampai di gua, melainkan hanya di bagian lembah. Gua Sumpang Bita memang berada di bebukitan. Setidaknya, ada beberapa bukit yang dilalui sebelum akhirnya sampai di gua tersebut.
“Ini pertama kali saya sampai di gua ini. Sebelumnya jika ke sini, hanya di bawah (maksudnya di lembah, red)” ujar Mujahidin yang akrab disapa Yoga tersebut sesaat setelah tiba di Gua Sumpang Bita, Kamis, 31 Maret lalu.

Yoga mengaku takjub dengan kondisi gua yang dikelilingi aneka lukisan yang dibuat manusia nomad itu. Tak henti-hentinya ia mengagumi setiap lukisan yang diamatinya. Ia mengaku terkesima karena lukisan tersebut menurutnya unik dan baru kali ini sempat melihatnya. Pemuda yang beralamat di Jalan Penghibur Kelurahan Mappasaile Kecamatan Pangkajene ini menyebut Gua Sumpang Bita sangat indah apalagi masih ada sisa stalaktik di sana. Bahkan, masih ada beberapa titik terlihat stalaktik yang masih hidup.

Pengakuan senada juga diutarakan Ismail Gau. Pemuda usia 24 tahun asal Kelurahan Bowongcindea Kecamatan Bungoro tersebut memuji keindahan Gua Sumpang Bita. Di dalam gua tersebut, ia masih bisa menyaksikan lukisan kaum nomad yang sangat langka itu. Kendati di bagian luar gua tidak ada lagi lukisan yang terlihat, namun di bagian dalam masih banyak. Jumlahnya mencapai 70-an lukisan. Namun dominan lukisan tangan berbagai ukuran, perahu, rusa, babi, dan beberapa lainnya.

Memang, terbilang sulit untuk mencapai Gua Sumpang Bita. Butuh waktu kira-kira satu jam untuk sampai ke gua. Jalanan yang mendaki menjadi tantangan tersendiri bagi yang ingin ke sana. Namun itu bukan masalah. Indahnya pepohonan serta syahdunya suara alam, menjadi hiburan tersendiri menemani perjalanan pengunjung. Dari atas bukit, Anda dapat menyaksikan indahnya pemandangan alam di bawahnya.

Petugas Karcis Sumpang Bita, Sudarman, 37 tahun, menjelaskan jika akhir-akhir ini pengunjung mulai berkurang. Menurutnya, lokasi ini hanya ramai dikunjungi saat hari raya dan hari besar, seperti Minggu, menjelang Ramadan, dan sesudah hari-hari besar keagamaan. “Tetapi setiap hari ada pengunjung yang datang kendati tak banyak,” katanya.

Tantangan Tangga “Seribu”

BERBEDA saat belum dijadikan kawasan peninggalan purbakala, kondisi jalan menuju Gua Sumpang Bita saat ini relatif sudah bagus. Kendati harus menempuh perjalanan kaki sekira satu kilometer untuk sampai ke mulut gua, namun jalanan menuju ke sana terbilang “mulus”.

Sumpang Bita, Wisata Sejarah nan Menakjubkan

Tak perlu lagi melewati semak belukar dan menebang pohon untuk samapi ke sana. Saat ini untuk menjangkau gua, cukup melewati jalan berundak atau tangga yang telah dibuat lebih rapi. Sudah ada anak-anak tangga yang jumlahnya tak terhitung menuju mulut gua. Anak tangga tersebut seluruhnya terbuat dari tembok. Hanya perlu menyiapkan sedikit energi untuk melewatinya.

Orang-orang yang sering ke sana kerap menyebut tangga yang tak berbilang tersebut dengan istilah “tangga seribu”. Jumlahnya yang begitu banyak dan berkelok-kelok membuat tangga tersebut seolah-olah tak diketahui berapa jumlahanya. Yang pasti, menelusuri tangga tersebut memberi kesan tersendiri. Pasalnya alam indah Sumpang Bita justru lebih bagus terlihat dari tanngga tersebut.

Semakin jauh ke atas menelusuri tangga, maka semakin indah pemandangan dan lansekap alam yang terlihat di bawah. Namun jangan takut akan merasa kelelahan. Pengelola Kawasan Taman Purbakala Sumpang Bita seolah-olah telah mengerti hal itu. Makanya di banyak titik sudut tangga, terdapat gazebo-gazebo sederhana yang bisa dijadikan tempat mengaso pengunjung saat melakukan perjalanan menuju gua.

“Jarak antara satu gazebo ke gazebo lainnya tidak teratur. Penempatannya disesuaikan di tempat-tempat di mana pengunjung sudah merasa capai,” ujar Jabbar, penjaga sekaligus guide di Sumpang Bita. Jabbar merupakan PNS di BP3 Makassar.

Gazebo-gazebo tersebut di bangun di sisi “tangga seribu” tersebut. “Gazebonya sudah ada. Tetapi mungkin lebih bagus jika dibuat lebih menarik lagi,” ujar Rusdi Ma’ruf, salah seorang PNS pada Dinas Pariwisata Kabupaten Pangkep yang turut ikut pada perjalanan penulis menyusuri Sumpang Bita
Sumber dan refernsi Lihat Di SINI.

Original Posted By Creative Commons License Hasbihtc.com