Konflik di Sabah Meluas Para TKI Mengungsi ke Tawau

Konflik di Sabah Meluas Para TKI Mengungsi ke Tawau, Jumlah tenaga kerja Indonesia yang terjepit di daerah konflik antara tentara Kerajaaan Sulu dan satuan keamanan Malaysia di wilayah Pantai Timur Sabah semakin bertambah. Medan pertempuran antara militan Sulu didukung gerilyawan Moro dari selatan Filipina dengan pihak keamanan Malaysia melebar ke kota-kota, tidak jauh dari Kota Lahad Datu. Tembak menembak secara brutal mengancam keselamatan para TKI

Di perkebunan tempat warga Indonesia bekerja di Lahad Datu, Samporna, dan Kunak. Sejumlah TKI diungsikan dari daerah konflik di ladang Sahabat 17 Felda yang tidak lagi terkoordinasi. Akhirnya para pekerja migran mengungsi atas inisiatif dan kemauan sendiri, dengan bekal secukupnya. Tidak ada biaya, karena upah belum sempat diambil dari para “toke”, majikan mereka. Para TKI mengungsi ke Kota Tawau, Minggu (3/3), menjauhi daerah pertempuran.

Pengusaha Indonesia Yunus Samba, penyalur TKI asal Sulsel, NTB, dan NTT untuk wilayah daerah perkebunan Pantai Timur Sabah, mengatakan kepada SH, Senin (4/3) pagi, walaupun banyak TKI berada di daerah konflik, kondisi pekerja migran Indonesia yang disalurkan perusahaannya dalam keadaaan aman.

Konflik Sabah

Foto Konflik Sabah dok antara shnews

Konflik Sabah Meluas Para TKI Mengungsi ke Tawau

Sebagian TKI bekerja di perkebunan Lahad Datu, Samporna, dan Sandakan, disalurkan perusahaan Bagus Bersaudara SDN BHD, pimpinan Yunus Samba. Mereka telah diungsikan jauh sebelum kontak senjata pihak keamanan Malaysia dan pasukan Sulu meluas ke wilayah perkebunan yang mempekerjakan para TKI, di bawah kendali Bagus Bersaudara SDN BHD.

Pihak kepolisian Malaysia tidak dapat memberi jaminan keselamatan para pekerja migran, karena pihak keamanan fokus mengantisipasi tentara Kerajaaan Sulu. Aparat negeri Jiran semakin “membabi buta” melakukan perlawanan bersenjata.

Laporan sejumlah pengamat independen di Tawau mengatakan, pihak keamanan Malaysia menambah dua batalion polisi dengan inti pasukan rimba (semacam brimob) dan tentara diraja dari Kota Kinabalu, sebagian didatangkan dari Kuching negara bagian Sarawak. Polisi dan Tentara Diraja tersebut akan ditempatkan di daerah Kunak dan Samporna, untuk membendung pergerakan tentara Sulu ke arah selatan.

Para pengikut Sultan Sulu mengamuk hebat dan membunuh lima polisi Malaysia dan menculik empat pejabat pemerintah lokal dalam sebuah serangan yang benar-benar menunjukkan eskalasi kekerasan. Abraham Idjirani, juru bicara Kesultanan Sulu, mengatakan pemimpin umat Islam setempat dan empat anaknya tewas dalam pertempuran di desa tepi laut Simunul di Samporna Kota, 300 km dari Desa Tanduao, di Lahad Datu, menyusul pertempuran hebat selama tiga pekan antara aparat keamanan Malaysia dan kelompok pengikut Sultan Jamalul Kiram III.

Idjirani mengatakan dua pejabat militer tertinggi, salah satu petugas polisi, dan satu anggota sipil terhormat telah berafiliasi dengan Alianapia Kiram, saudara laki-laki sultan. Laporan ini datang dari Malaysia yang mengatakan dua pengikut sultan juga tewas ditembak oleh petugas polisi.

Idjirani juga mengatakan kelompok pengikut sultan yang dipimpin oleh Agbimuddin Kiram, saudara laki-laki yang lain dari Jamalul, sudah dikontrol langsung di Samporna yang dihuni oleh kelompok Filipina dari Sulu, Basilan, Tawi-Tawi, dan Jazirah Zamboanga.

Ketua Komite Dewan Islam dari Moro National Liberation Front (MNLF), Alim Hashim Mudjahab, mengatakan di Zamboanga City, para pengikut sultan menyerang sebuah kantor polisi di Semporna pada Sabtu malam. “Mereka telah membebaskan lebih dari 100 muslim Filipina yang ditangkap pada Jumat, ketika mereka ditangkap polisi Malaysia dan rekan-rekannya,” katanya.

Di Tawau, ia juga mengatakan pengikut sultan menyerang sebuah konvoi dari militer Malaysia dengan truk dan dinamit yang biasa digunakan untuk memancing ikan dan melakukan pengeboman di laut untuk mematikan ikan.

Mudjahab mengatakan ia menerima informasi dari para pendukung MNLF dari wilayah mereka. Tetapi Kepala Militer Komando Mindanao Jenderal Rey Ardo mengatakan ia telah menerima laporan eskalasi kekerasan sudah terjadi sejak Jumat di Lahad Datu dan menyebar sampai ke wilayah bagian lain Sabah. Ia menyatakan polisi telah menembak Imam Maas dan empat anaknya dan satu imam yang lain.

Penduduk desa pun menjadi marah dan langsung membunuh dan menahan empat pejabat berwenang Malaysia. Inspektur Polisi Malaysia, Jenderal Ismail Omar, mengatakan lima polisi tewas ketika mereka disergap di sebuah desa panggung di Samporna pada Sabtu malam. Menurut Ismail, lima polisi ini telah memasuki Desa Simunul di Samporna dan memburu sekelompok orang bersenjata ketika mereka sedang berusaha menembak.

Ia juga mengatakan dua orang bersenjata tewas sehingga total keseluruhan yang tewas ada tujuh orang. Kepala Polisi Samporna Mohamad Firdaus Francis Abdullah sama sekali tak mau berkomentar soal insiden ini. Ia hanya menyatakan terkejut dengan semua kejadian ini hingga bisa menambah lagi korban tewas. (Bangkok Post/The Inquirer/Nonnie Rering) Konflik Malaysia-Filipina Source shnews.co

Original Posted By Creative Commons License Hasbihtc.com

Share It →